Monday, July 22, 2019
Remaja Ahli Tafsir di Tengah Tokoh Senior Badar
Ibnu Abbas dikenal dengan gelar Turjuman Al-Quran (Penafsir Al-Quran), Habrul Ummah (Guru Umat), dan Ra’isul Mufassirin (Pemimpin para Mufassir).
Al-Baihaqi dalam Ad-Dala’il meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, “Penafsir Al-Quran terbaik adalah Ibnu Abbas.”
Abu Nu’aim meriwayatkan keterangan dari Mujahid bahwa Ibnu Abbas dijuluki dengan Al-Bahr (Lautan) karena keluasan ilmu yang dimilikinya.
Ibnu Sa’ad meriwayatkan pula dengan sanad shahih dari Yahya bin Sa’id Al-Anshari, “Ketika Zaid bin Tsabit wafat, Abu Hurairah berkata, ‘Orang paling pandai umat ini telah wafat dan semoga Allah menjadikan Ibnu Abbas sebagai penggantinya’.”
Dalam usia muda, Ibnu Abbas telah mendapat tempat yang istimewa di kalangan para sahabat senior mengingat ilmu dan ketajaman pemahamannya.
Bukhari dari jalur sanad Sa’id bin Jubair meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa ia menceritakan, “Umar mengikutsertakan aku ke dalam kelompok para tokoh senior Badar. Nampaknya sebagian mereka merasa kurang suka, lalu berkata, ‘Mengapa anak ini diikutsertakan ke dalam kelompok kami, padahal kami pun memiliki anak-anak yang sepadan dengannya?’ Umar menjawab, ‘Ia memang seperti yang kalian ketahui.’ Pada suatu hari Umar memanggil mereka dan mengajak aku bergabung dengan mereka. Saya yakin, Umar memanggilku semata-mata hanya untuk memamerkan saya di hadapan mereka. Ia berkata, ‘Bagaimana pendapat Tuan-Tuan mengenai firman Allah Ta’ala, ‘Apabila pertolongan dan kemenangan Allah telah tiba (An-Nasr: 1).’ Sebagian mereka menjawab, ‘Kita diperintah untuk memuji Allah dan memohon ampunan-Nya. Ia memberi kita pertolongan dan kemenangan.’ Sedang yang lain diam, tidak berkata apa pun. Lalu Umar berkata kepadaku, ‘Begitukah pendapatmu, hai Ibnu Abbas?’. ‘Tidak,’ jawabku. ‘Lalu bagaimana menurutmu?’ tanyanya lebih lanjut. Aku pun menjawab, ‘Ayat itu adalah sebagai penanda tentang ajal Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang Allah informasikan kepadanya, ‘Apabila pertolongan dan kemenangan dari Allah telah datang.’ Dan itu sebagai pertanda ajalmu, wahai Muhammad. ‘Maka bertasbihlah dengan memuji Rabb-mu dan mohon ampunlah kepada-Nya. Sesungguhnya Ia Maha penerima taubat.’ Umar pun berkata, ‘Aku tidak mengetahui maksud ayat itu kecuali apa yang kamu katakan’.”
Labels:
Ibnu Abbas,
Umar bin Khaththab,
Zaid bin Tsabit
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment